BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KABUPATEN BENGKALIS

Bengkalis, Riau, Indonesia. 28751
  11 May 2023 | DIBACA : 9.024 KALI

Jejak Digital

 Artikel | Id

Jejak digital adalah informasi yang ditinggalkan seseorang saat menggunakan internet. Informasi ini sulit dihilangkan dan bisa saja disalahgunakan oleh orang tak bertanggung jawab. Tapi, membersihkan rekam jejak digital itu bukan hal yang tidak mungkin.

Apa Itu Jejak Digital?

Yang dimaksud dengan jejak digital adalah segala rekam jejak data seseorang saat berselancar di internet. Bentuknya bisa berupa unggahan di media sosial, ulasan di sebuah forum, atau aktivitas berbelanja di ecommerce.

Terkadang, pengguna internet bisa meninggalkan jejak digital secara tidak sadar. Misalnya, setelah mengizinkan website membaca cookies, website bisa menyimpan rekam jejak digital dan aktivitas online yang dilakukan pengunjungnya. Dengan data cookies tersebut, website akan merekomendasikan iklan yang mungkin Anda sukai. 

Perlu diketahui, jejak digital adalah hal yang sulit dihilangkan. Sesuatu yang diunggah seseorang bisa saja sudah dihapus, tetapi jejak digital tersebut tidak bisa hilang begitu saja. Apalagi jika orang lain masih memiliki unggahan tersebut dalam bentuk screenshot ataupun tautan. Untuk mengenal jejak digital lebih lanjut, mari kita bahas jenis-jenis jejak digital berikut ini :

Jenis-Jenis Jejak Digital

Ada 2 jenis rekam jejak digital yang perlu Anda ketahui, yaitu:

1. Jejak Digital Aktif

Jejak digital aktif adalah ketika pengguna secara sadar membagikan sebuah informasi. Contoh jejak digital aktif di antaranya: 

  • Mengirim email 
  • Mengunggah konten di Facebook, Twitter, atau media sosial lainnya
  • Berlangganan newsletter 
  • Mengisi survey online

2. Jejak Digital Pasif

Jejak digital pasif adalah data yang ‘ditinggalkan’ tanpa sadar oleh pengguna ketika berselancar di dunia maya. Berikut adalah contoh jejak digital pasif:

  • Aplikasi yang mengakses lokasi GPS Anda
  • Media sosial yang menggunakan like dan share untuk memunculkan iklan tertarget di media sosial Anda  
  • Website yang menggunakan cookies untuk melacak aktivitas online Anda tanpa izin

Bagaimana Jejak Digital Anda Digunakan?

Jadi, beberapa kegunaan jejak digital adalah:

1. Personalized Marketing

Jejak digital bisa digunakan untuk menerapkan strategi personalized marketing, Jadi, personalized marketing adalah upaya untuk memberikan konten pemasaran yang sesuai dengan target konsumen. Jejak digital ini bisa digunakan untuk melakukan strategi ini karena adanya cookies, yaitu file yang disimpan di perangkat Anda setelah Anda mengunjungi sebuah website. Melalui cookies, digital marketer bisa mendapatkan informasi personal Anda seperti umur, jenis kelamin, kesukaan, dan lainnya. Sebagai contoh, ketika Anda browsing merk sepatu di mesin pencari, kemungkinan Anda akan menemui iklan yang serupa dengan apa yang Anda cari. 

2. Background Checking

Saat ini, 70% recruiter sudah menggunakan media sosial untuk melakukan screening kandidat. Background check ini dilakukan dengan melihat jejak digital alias aktivitas online dan perilaku bermedia sosial di platform seperti LinkedIn, Twitter, dan lainnya. Recruiter melakukan background checking untuk mengetahui pribadi asli seorang kandidat. Apabila tidak cocok dengan budaya perusahaan, bukan tidak mungkin kandidat tersebut tidak lolos seleksi. 

3. Bukti Digital Cyber Crime

Jejak digital dapat digunakan pada tahap pembuktian kasus cyber crime. Untuk mengumpulkan dan menganalisis jejak digital di komputer pelaku, diperlukan metode digital forensik. Biasanya, metode ini dilakukan dengan bantuan berbagai aplikasi analisis seperti Encase, Access Data FTK, Belkasoft, Autopsy, dan masih banyak lagi.

Bahaya Jejak Digital

Beberapa bahaya yang dapat muncul dengan adanya jejak digital adalah:

1. Memudahkan Terjadinya Pencurian Data

Meninggalkan jejak digital dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan untuk mencuri data pribadi Anda. Dengan jejak digital, pelaku dapat dengan mudah mendapatkan akses ke data penting Anda. Misalnya, alamat rumah, NIK, data kartu kredit, dan lainnya, di mana data tersebut dapat disalahgunakan untuk kepentingan pribadi pelaku. Seperti pada kasus tren Add Yours di Instagram. Pengguna Instagram diajak untuk membagikan hal kecil yang tampak sepele seperti tanda tangan, foto KTP, atau nama ibu kandung. Tanpa disadari, hacker bisa mengumpulkan data pengguna yang mengikuti challenge Add Yours dengan cara tersebut. 

2. Celah Aksi Scam

Salah satu dampak dari pencurian data adalah terjadinya penipuan online atau scam. Sebagai contoh, kasus yang menyebabkan korbannya kehilangan uang karena scammer berhasil meyakinkan korban dengan menggunakan nama panggilan masa kecil seolah penipu adalah kerabat dekat.

3. Mempengaruhi Reputasi Profesional

Recruiter menggunakan jejak digital untuk mengidentifikasi tanda-tanda yang mungkin menunjukkan bahwa kandidat tidak cocok dengan pekerjaan yang dilamar. Menurut perusahaan cyber security Kaspersky, sepertiga pencari kerja menyatakan bahwa unggahan di media sosial telah merusak prospek pekerjaan mereka. Contohnya, pada kasus seorang pelamar kerja yang ditolak recruiter karena jejak digitalnya yang buruk. Meski punya IPK yang tinggi, pelamar tersebut tidak diterima kerja karena sempat curhat di media sosial dengan perkataan yang tidak sopan. Kok bisa ketahuan? Kebetulan, mantan bapak kosnya adalah salah satu interviewer pelamar kerja tersebut. Bapak kos tersebut masih memiliki screenshot yang isinya cuitan sang pelamar.

Cara Menghapus Jejak Digital

Inilah cara menghapus jejak digital yang bisa Anda lakukan:

1. Ajukan Permohonan Penghapusan Konten di Google

Google menerapkan “right to be forgotten” atau hak untuk dilupakan. Jadi, Google akan mempertimbangkan permintaan untuk menghapus konten. Misalnya, foto eksplisit non-konsensual, data keuangan, sampai rekam medis. Untuk menerapkan cara menghapus jejak digital ini, Anda harus mengirimkan formulir dan memberikan bukti kontennya. Berikut langkah-langkahnya:

  • Buka legal help di halaman Google Support
  • Klik “create a request”
  • Pilih produk Google di mana konten yang ingin dihapus diunggah. Misalnya, Google Search, Google Image, hingga YouTube
  • Tuliskan alasan pengajuan penghapusan konten dengan jelas dan lengkap
  • Lampirkan link untuk setiap konten yang ingin dihapus
  • Submit formulir permohonan penghapusan

2. Tutup Akun Lama yang Sudah Tidak Dipakai

Sebelum Anda paham tentang bahaya jejak digital, Anda mungkin asal membuat akun yang mencantumkan nama lengkap, umur, hingga lokasi tempat tinggal. Hal ini bisa menjadi peluang bagi pelaku cyber crime untuk menyalahgunakan data Anda demi keuntungan pribadinya. Supaya terhindar dari tindak cyber crime, alangkah baiknya kalau akun-akun tersebut ditutup. Nah, coba ingat kembali semua akun lama Anda, baik itu media sosial, email, maupun akun game. Lalu, hapuslah akun-akun tersebut. Sedikit ribet? Tenang, ada jalan pintas yang bisa dilalui untuk menghapus akun-akun tersebut kok. Caranya, dengan menggunakan aplikasi Justdelete.me. Dengan aplikasi ini, Anda akan langsung diarahkan ke halaman penghapusan akun-akun Anda.

3. Hapus Unggahan Lama

Sebanyak 45% orang menyesal sudah mengunggah segala macam konten ke media sosial di usia muda. Sebab, tanpa mereka sadari mereka ini pernah mengunggah informasi sensitif di media sosial. Untuk menghapus jejak digital ini, Anda bisa menggunakan beberapa cara. Misalnya untuk Twitter, Anda bisa menggunakan TweetDeleter. Atau, untuk unggahan di Facebook, Anda bisa menghapus unggahan Anda dengan cara: 

  • Buka Pengaturan & Privasi 
  • Klik Log Aktivitas 
  • Pilih jenis aktivitas yang ingin Anda hapus seperti unggahan tulisan atau tag foto
  • Klik kelola lalu hapus aktivitas yang Anda pilih. 

(https://www.niagahoster.co.id/blog/jejak-digital-adalah/#1_Memudahkan_Terjadinya_Pencurian_Data)