BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KABUPATEN BENGKALIS

Bengkalis, Riau, Indonesia. 28751
18 August 2020 Id Artikel | dibaca : 83 kali

75 Tahun Indonesia Merdeka : Bagaimana ASN memaknainya

blog-img

BKPP – Tepat pada tanggal 17 Agustus setiap tahun, rakyat seantero jagad nusantara dengan khidmat memperingati Hari Proklamasi, hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang kita cintai. Dalam benak kita sebagai generasi penerus terbesit bagaimana jerih payah dan usaha memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan oleh para pahlawan – pahlawan bangsa terdahulu. Barangkali juga akan muncul pertanyaan oleh bangsa lain, atau anak cucu kita kedepan “apa sebenarnya makna dan tujuan kita memperingati hari proklamasi itu?” Mungkin ada beberapa jawaban yang bisa kita sampaikan kepada mereka.

Pertama, untuk mendoakan para pahlawan.

Kedua, untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para pejuang dan pahlawan kita.

Ketiga, untuk meneladani kisah hidup dan perjuangan mereka serta meneruskan perjuangan itu.

Ibarat mengendarai mobil dimalam hari, lampu adalah pedoman para pengemudi dalam memilih jalan. Begitupun para pahlawan, perjuangan mereka dapat dijadikan sebagai signal penunjuk arah bagi kehidupan berbangsa disaat ini dan dimasa depan yang menjadi harapan. Apa sebenarnya makna yang dapat dijadikan inspirasi dari perjuangan mereka terdahulu yang mereka wariskan kepada kita saat ini?

 

Pertama, Cita-cita harapan yang jelas
Keinginan luhur para pahlawan tentunya Kemerdekaan bangsa Indonesia, pembebasan nusantara dari para penjajah. Bung Karno sebagai proklamator mengatakan gantunglah cita-cita kita setinggi langit. Cita-cita yang membuat orang bangun lebih pagi, tahan beraktivitas dibawah teriknya sang surya, bahkan di kota-kota besar rela berdesak-desakan dalam angkutan umum untuk ke lokasi tempat bekerja, menemui pelanggan atau bekerja sampai larut malam. Dulu saat masih anak-anak masing-masing kita pernah ditanya tentang cita-cita. Sebagian ada yang menjawab mau jadi dokter, mau jadi polisi, mau jadi pilot, dan sebagainya. Namun belum pernah ada yang memberikan jawaban dengan kata-kata “saya mau jadi pahlawan”. Barangkali karena pahlawan bukan pekerjaan. Tapi pahlawan adalah sebuah gelar atas perjuangan yang telah dilakukan. Pahlawan adalah suatu panggilan, layaknya para ASN bilamana kita mengerjakan suatu panggilan dengan penuh integritas, loyalitas dan dedikasi yang tinggi demi suatu pencapaian dalam bidang pelayanan, maka kitapun sudah menjadi pahlawan bagi publik. Kita bekerja bukan hanya demi kepentingan diri sendiri, tetapi juga demi kebaikan orang lain dan demi kepentingan orang banyak.

Kedua, Semangat Pantang menyerah
Bila kita memiliki cita-cita dan harapan yang jelas, maka tantangan dan godaan apapun yang ada dihadapan kita tidak akan bisa menggoyahkan niat dihati. Inspirasi dari kisah Columbus, setelah berlayar berbulan-bulan lamanya dan belum juga menemukan apa yang dicari. Para awak kapal sudah mulai putus asa, daratan yang diimpikan belum jua tampak dihadapan. Hingga para awak kapal mendesak Columbus untuk berbalik arah kembali ke tanah kelahiran, spanyol. Namun berkat semangat pantang menyerah dan keyakinan yang kuat membuat mereka berhasil. Akhirnya sejarah menganggap bahwa Columbus adalah penemu benua amerika, meskipun sebelumnya sudah ditemukan dan dihuni oleh suku indian. Maknanya hasil adalah proses dari usaha yang kuat dan semangat pantang menyerah.

Ketiga, Keberanian
Bung Karno dan para tokoh-tokoh Nasional yang terlibat dalam usaha persiapan Kemerdekaan adalah orang-orang yang pantang menyerah. Beberapa dari tokoh tersebut pernah ditangkap dan dibuang oleh Kolonial Belanda. Akan tetapi mereka tidak pernah putus asa. Mereka sadar bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang sulit dan berbahaya. Oleh sebab itu perlu menjadi teladan bagi kita bahwa cita-cita seringkali gagal hanya karena menemui secuil batu sandungan, takut untuk memulai, atau takut untuk mengambil resiko. Jika kita memiliki keinginan maka laksanakanlah. Sebagaimana pepatah melayu mengatakan “sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang”.

Keempat, Semangat Berkorban
“Tidak ada yang gratis dibawah sinar matahari”, sebuah motto orang pebisnis. Barangkali motto ini bisa diambil kebenrannya. Artinya apapun yang kita lakukan memiliki konsekuensi. Meneladani kisah perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakan agama Allah SWT berbagai macam rintangan, halangan, cobaan, cacian, makian, namun berkat perjuangan dan pengorban yang dilakukan Rasulullah SAW, kita bisa merasakan indahnya islam saat ini. Kekuatan yang besar akan memilki tanggung jawab yang besar pula. Jika kita berziarah ke makam Pahlawan, kita jumpai nama yang terukir di batu nisan. Kita bangga kepada mereka. Mereka adalah orang yang telah berkorban demi berdirinya Negara ini. Berkat perjuangan merekalah dan atas izin Tuhan Yang Maha Esa bangsa kita bisa dikenal didunia, diakui keberadaannya oleh bangsa lain. Bagi para ASN dan kaum milenial, kita bukan penumpang gelap dikapal yang bernama Indonesia. Kita bukan penumpang gratis. Kita memiliki andil yang sama dalam menentukan arah kapal tersebut. Dengan bekal cita-cita, semangat pantang menyerah, dan kemauan, tiada pengorbanan yang akan sia-sia. Tiada rintangan yang tidak bisa diatasi, walaupun sedikit dari pelayanan yang diberikan, tapi hasilnya sudah pasti akan berkesan, jika dilakukan dengan penuh keikhlasan. Tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan mendorong perubahan pada birokrasi merupakan sebuah kesempatan yang mulia. Cita-cita dan tujuan bernegara sebagaimana yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945 akan lebih mudah dan realistis terwujud apabila didukung dengan system birokrasi dan pelayanan yang prima, pelayanan yang bersih, kompeten dan melayani. Mari kita lakukan kebaikan sekecil apapun itu, sebagai wujud kecintaan kita terhadap Indonesia. Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-75, Indonesia Maju !.

Populer